Cari Blog Ini

Senin, 29 Juli 2013

Pusat Vulkanologi Minta Status Gunung Merapi Dinaikkan (+)

TEMPO.COYogyakarta - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono menyarankan, status Gunung Merapi naik dari Aktif Normal menjadi Waspada atau satu tingkat di bawah Siaga. “Kenaikan status itu untuk sebagai bentuk peringatan dini bagi masyarakat,” ujar Surono, Rabu, 24 Juli 2013.
Pusat Vulkanologi Minta Status Gunung Merapi Dinaikkan

Tapi, katanya, peringatan dini bencana letusan gunung api dari normal sampai ke awas bukan untuk meramal waktu gunung akan meletus dan besaran letusannya. “Peringatan dini merupakan jembatan antara aktivitas gunung api dengan masyarakat disekitar," kata Surono.

Peringatan dini itu hanya jembatan yang dibangun guna menghubungkan aktivitas gunung api yang dapat membahayakan aktivitas masyarakat yang berada di sekitar gunung. Seperti pertanian, peternakan, wisata, dan penambangan pasir. “Peringatan dini itu dilakukan agar risiko bencana dapat diturunkan hingga seoptimal mungkin. Sehingga minim adanya korban, meskipun tidak sampai nol risiko,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ada gunung api dalam status siaga, yang sudah, sedang, dan berpotensi meletus terus-menerus, seperti Gunung Lokon. Ada juga yang statusnya waspada tapi sering meletus, seperti Gunung Semeru dan Gunung Merapi. “Letusan gunung api tidak bisa diramal,” kata Mbah Rono, panggilan akrab Surono.

Dia mengingatkan, masyarakat jangan berpegang pada biasanya. Sebab, alam dapat berbuat tidak biasa. “Karena alam dapat mengakhiri proses keseimbangannya yang bergantung proses saat ini, tak harus sama dengan masa lalu yang dianggap biasanya,” ujar Surono.

Gunung Merapi melontarkan asap tebal setinggi 1000 meter yang mengakibatkan hujan pasir panas dan abu di sejumlah wilayah sekitarnya pada Senin dini hari, 22 Juli 2013. Pada 23 Juli 2013, data kegempaan Gunung Merapi mencatat, pukul 00.00-19.00 WIB terjadi 2 kali embusan selama  30 detik. "Aktivitas Merapi rendah, ada rekomendasi agar masyarakat di sekitar Merapi tetap tenang," kata Lasiman Pecut, petugas pengamatan Gunung Merapi di Kaliurang, Sleman.

Dilanjutkan oleh Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Surono mengatakan gunung Merapi kini memiliki perilaku baru yakni menyemburkan asap. "Ini kelakuan Merapi yang baru," kata dia di sela simposium Indonesia tentang pengurangan dan ketahanan risiko bencana di Yogyakarta, Kamis 13 Juni 2013.

Ia mengatakan perilaku itu muncul setelah letusan terakhir pada 2010 lalu. Setelah erupsi itu, di puncak Merapi tak terbentuk kubah. Ini berbeda dengan letusan-letusan sebelumnya yang selalu meninggalkan kubah dan menjadi pelindung kawah."Merapi sekarang telanjang," kata dia.

Di puncak Merapi, menurut dia, faktor air dan panas beruba menjadi uap. Karena kini tak ada lagi penghalang, uap itu menyembur menjadi asap. "Dulu pakai topi, sekarang terbuka kawahnya," kata Surono.

Beberapa waktu lalu, hujan abu tipis melanda lereng Merapi. Di antaranya berlangsung di Ngadirojo, Tlogo Lele, Selo, Boyolali. Abu itu, menurut Surono, terjadi bersamaan dengan semburan asap di puncak Merapi. "Uap itu bawa teman," kata dia. Di puncak gunung, "Temannya ya abu di sana."

Ia mengatakan masyarakat tak perlu cemas dengan perilaku baru gunung yang terletak di empat Kabupaten itu; Magelang, Boyolali, dan Klaten di Jawa Tengah serta Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta. "Kalau Merapi menyemburkan asap jangan heran," kata dia.

Pasca letusan itu, di puncak Merapi masih menyisakan material. Saat hujan deras berlangsung, material itu mengalir menjadi lahar. Menurut Surono, lantaran terbawa air hujan maka disebut lahar hujan, bukan lahar panas atau dingin. Selama mengalir di sungai tak ada masalah bagi masyarakat. Ini karena sungai-sungai yang berpangkal di puncak Merapi memang aliran lahar. "Kalau keluar sungai itu yang jadi masalah," kata dia.

30 juli 2013, in Yogyakarta Dinkes Prov dan SARDA DIY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar