Rumah
Sakit sebagai satah satu faksilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari
sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dlam mendukunng upaya kesehatan.
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai karakteristik dan
organisasi yang sangat kompleks. Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan
perangkat keilmuannya masing-masing berinteraksi satu sama lain. Ilmu
pengetahuan daan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang harus
diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu,
membuat semakin kompleksnya permasalahan dalam rumah Sakit. Rumah Sakit sebagai
salah satu faksilitas pelayanan kesehatan memiliki peran ynag sangat strategis
dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.
Peran strategis ini diperoleh karena rumah sakit adalah faksilitas kesehatan
padat teknologi dan padat pakar.
Gambar 1.1 Rumah Sakit Umum Daerah
Rumah
Sakit berubah dari organisasi normatif (organisasi sosial) ke arah organisasi utilitarian (organisasi sosisal-ekonomis), namun fungsi
sosial adalah fungsi yang tetap melekat pada institusi rumah sakit apapun
bentuk, orientasi dan pola kepemilikannya.
Berdassarkan
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009
tentanng Rumah Sakit pasal 33 berbunyi "Setiap Rumah Sakit harus
memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuantabel." Organisasi
Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi Rumah Sakit
dengan menjalankan tata kelola perusahaannya dengan baik (good corforate govermance) dan tata kliniks yang baik (good clinical govermance). pada bab ini
akan di bahas secara satu persatu secara luas.
Gambaran Umum RS.
A. MANAJEMEN
Rumah Sakit agar dapat memberikan
pelayanan yang baik maka dibutuhkan berbagai sumber daya yang hars diatur
dengan proses manajemen secara baik. Defenisi dari George Terry menyatakan
bahwa manajemen terdiri dari planning, organizing, actuacting, dan controling
(POAC).1 Manajemen dapat diartikan suatu proses yang menciptakan, memelihara
dan mengoperasikan organisasi dengan tujuan tertentu melalui upaya manusia yang
sistematis, terkoordinasi dan koperatif. Suatu proses menganalisa, menerapkan
tujuan, sasaran, erta penjabaran tugas dan kewajiban secara baik dan efisien. Proses
pemanfaatan sumber daya manusia (SDM), uang, bahan dan alat yang dianalisis dan
diatur secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan SDM,
sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Marsum.dkk., 2007).
Manajemen
rumah sakit
adalah koordinasi antara berbagai sumber daya melalui proses perencanaan,
pengorganisasian, dan adanya kemampuan pengendalian untuk mencapai tujuan.
gaya manjemen yang banyak dianut
adalah Total Quality Manajemen/ TQM adalah manajemen
yang dimuali dari jepang pada tahun 1950, dimana TQM adalah sistem manajemen
yang mengelola perusahaan dan kegiatannya dengan mengikutsertakan seluruh
jawaran karyawan untuk berperan serta bersama dalam mengembangkan dan meningkatkan
mutu disegala bidang demi kepuasan pelanggan.
Tujuan manajemen rumah sakit
seperti berikut ini:
1.
Menyiapkan sumber daya.
2.
Mengevaluasi efektifitas.
3.
Mengatur pemakaian pelayanan.
4.
Efisiensi.
5.
Kualitas.
Dalam kegiatan organisasi rumah
sakit yang kompleks pengalaman saja tidak cukup, penanganannya tidak bisa lagi
atas dasar kira-kira dan selera, hal-hal ini disebabkan oleh:
a.
Sumber
daya yang semakin sulit dan mahal.
b. Era kompetisi yang menuntut
pelayanan prima.
c. Tuntutan masyarakat yang semakin
berkembang.
Dalam
rangka melaksanakan pelayanan yang berorientasi pada pasien, dan menjaga mutu
pelayanan perlu dengan manajemen yang handal, dengan demikian segala hal yang
diperlukan akan tersedia dalam bentuk:
1. Tepat jumlah
2. Tepat waktu
3. Tepat sasaran
WHO
pada tahun 1966 mengelurkan wold health
statistic annual yang menyatakan
bahwa institusi baru dapat disebut rumah sakit bila setidaknya punnya 1 dokter
tetap. Pada dasarnya sumber daya dibagi menjadi sumber daya manusia dan sumber
daya non manusia. 2
Tabel Risalah RSUD Serang.
Tabel
manajemen di Rumah Sakit
|
Sumber
Daya +
|
Proses
Manajemen
Menghasilkan
|
Pelayanan Pada
pasien
|
|
Uang
Peralatan
Waktu
Informasi
Tenaga
|
Planning
Organizing
Staffing
Directing
Controlling
Reviewing
Communicating
Coordinating
Decision
Maker
|
Pelayanan
prepenitf, kuratif dan rehabilitatif rawat jalan, rawat inap dan rawat
darurat.
|
Manajemen lilngkungan rumah sakit
merupakan manajemen yang tidak statis, tetapi sesuatu yang dinamis sehingga
diperlukan adaptasi atau penyesuaian bila terjadi perubahan di rumah sakit,
yang mencangkup sumber daya, proses dan kegiatan rumah sakit, juga apabila
terjadi perubahan di luar rumah sakit, misalnya perubahan peraturan
perundang-undangan dan pengetahuan yang disebabkan oleh perkembangan teknologi.
Gelombang globalisasi telah
menciptakan tantangan bagi rumah sakit yang semakin besar, yaitu kompetisi (competition) yang semakin ketat dan
pelanggan (costumer) yang semakin
selektif dan berpengetahuan. Tantangan seperti ini mengahadapkan para pelaku
pelayanan kesehatan khususnyna rumah sakit baik pihak pemerintah maupun swasta
pada dua pilihan, yaitu masuk dalam arena kompetisi dengan melakukan perubahan
dan perbaikan. Bidang kesehatan yang paling terpengaruh oleh dampak
globalisasi, antara lain bidang perumahsakitan, tenaga kesehatan, industri
farmasi, kesehatan dan asuransi kesehatan. Di bidang perumahsakitan misalnya,
manajemen pelayanan kesehatan belum efisien maka mutunya masih relatif rendah.
Rumah sakit sebagai salah satu unit pelaksana pelayanan kesehatan harus bisa
memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengguna jasa pelayanan karena
pelayanan yang berkualitas sangat diharapkan oleh para pengguna jasa pelayanan.
Peningkatan kualitas pelayanan adalah salah satu isu yang sangat dalam
manajemen, baik dalam sektor pemerintah maupun sektor swasta. Terjadi karena
disatu sisi tuntutan masyarakat terhadap perbaikan pelayanan dari tahun ke
tahun menjadi semakin besar, sedangkan disisi praktik penyelenggaraan pelayanan
tidak mengalami perbaikan yang berarti.
Pelayanan kesehatan dituntut
untuk lebih memfokuskan pada kebutuhan pelanggan, sejalan dengan meningkatnya
tuntutan masyarakat akan pelayanan yang lebih baik, dan perkembangan teknologi.
Penyelenggaraan kegiatan pelayanan
di rumah sakit juga tidak terlepas dari resiko dari yang ringan sampai yang
berat dan fatal, kehilangan nyawa. Konsekuensi dari hal-hal tersebut
mengharuskan organisasi rumah sakit menerapkan konsep organisasi manajemen yang
sangat mengutamakan tingkat akurasi dan ketelitian serta kehati-hatian yang
tinggi, demikianpun dengan tingkat kedisiplinan yang ketat. Selain itu karena
erat kaitannya dengan manusia maka nilai-niali kehidupan harus dikemukakan
dalam penyelenggaraan pelayanannnya. Oleh karena menyakut manusia maka seluruh
aspek-aspek humanisme seperti sosial, etika, dan profesionalisme merupakan
landasan utama pada penyelenggaraan seluruh aktifitas pelayanan kesehatan.
Masyarakat yang akan dilayani
adalah orang sakit, our patient is sick
peson, who need help. konsep inti pada Pennyelenggaraan Layanan RS adalah
mengobati dan merawa pasien yang datang untuk meminta bantuan pengobatan /
karyawan, baik secara rutin maupun yang bersifat emergensi life saving. Jadi inti dari
penyelenggaraan manajemen rumah sakit adalah mengelola pasien.
Manajemen strategis diperlukan
agar pelayanan kekaryawanan di rumah sakit dapa dilaksanakan secara efektif dan
efisien, Penyusunan manajemen strategis menggunakan sumber-sumber yang tersedia
baik didalam maupun di luar organisasi.
sesuai dengan tahapan yang ada
dalam manajemen, dalam penerapan proses unit kerja tidak terlepas dari
fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari:
a.
Perencanaan (Planning)
Pada
tahap perencanaan dalam penerapan proses unit kerja, Dokter harus menyusun perencanaan
asuhan sesuai dengan filosofi, tujuan, sasaran pelayanan unit kerja, kebijakan,
peraturan dan prosedur yang berlaku, dan mengantisipasi jika terjadi perubahan
terhadap rencana yang telah disusun.
b.
Pengorganisasian (organizing)
Implementasi
pengorganisasian dalam penerapan proses unit kerja adalah melalui struktur yang
di susun dalam melaksanakan perencanaan dan kegiatan kelompok untuk mencapai
tujuan. Contoh metode penugasan yang digunakan, metode pemberian asuhan unit
kerja tim, primer atau manajemen kasus. Fungsi lain pengorganisasian dalam
penerapan proses unit kerja adalah meliputi penggunaan wewenang yang sesuai. Seperti pembagian tugas yang
sesuai mulai dari kepala ruangan sampai ke Dokter pelaksana sesuai dnegan
wewenang dan tanggung jawabnya.
c.
Pengelolaan Staf (Staffing)
Fungsi
Staffing dalam penerapan proses unit
kerja, harus sudah dimulai sejak pelaksanaan rekrutmen, orientasi, penjadwalan,
dan pengembangan staf. Karena jenis dan kualitas tenaga sangat menentukan mutu
pelayanan yang diberikan. Contoh: peraturan jadwal dinas Dokter harus sesuai
ndengan pemerataan kemampuan Dokter di setiap shift, jumlah dan tingkat
ketergantungan pasien, sehingga proses unit kerja dapat dilaksanakan dengan
baik.
d.
Pengarahan (Directing)
Fungsi
pengarahan dalam penerapan proses uni kerja, pengelolaan sumber daya manusia
unit kerja, meliputi pemberian motivasi dalam pelaksanaan asuhan unit kerja,
pendelegasian tugas, melakukan komunikasi terapeutik dan meakukan kolaborasi
dengan tim kesehatan lain. Misalnya memfaksilitasi penyelesaian masalah apabila
timbul konflik sesama Dokter dengan terhadap perubahan jadwal dinas.
e.
Pengendalian (Controling)
Fungsi
pengendalian ndalam peneraan proses unit kerja meliputi penilaian penampilan
kerja dalam memberikan asuhan yang telah diberikan, pertanggungjawaban terhadap
kelayakan keuangan, pengendalian profesional dan kesejawatan. Evaluasi
penilaian kinerja dilaksanakan kepada seluruh Dokter, pada setiap tahapan dari
fungsi manajemen.
Era
globalisasi dan pasar bebas tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
yang memadai semakin meningkat dan memacu Rumah Sakit (RS) untuk memberikan
layanan terbaik agar tidak dimarginalkan oleh masyarakat. Persaingan di bidang
perumahsakitan semakin tajam, bukan hanya dalam jumlah, tapi juga agresifitas
rumah sakit pesaing yang menerapkan keunggulan kompetitif agar bertahan dalam
persaingan. Dalam kondisi persaingan yang ketat hal utama yang perlu
diprioritaskan oleh rumah sakit adalah bagaimana strategi peningkatan mutu
pelayanan terhadapap pelanggan. Pelayanan yang diberikan agar lebih baik perlu
adanya perencanaan strategi yang baik dalam peningkatan mutu pelayanan yang
berkesinambungan dan paripurna.A.1 Manajemen Stategik
Manajemen
strategi adalah suatu proses untuk merumuskan dan menngimplementasikan strategi
dalam penyediaan costumer value untuk
mewujudkan visi organisasi. Manajemen strategi merupakan suatu proses.
Manajemen strategi mencangkup dua proses utama yaitu perumusan strategi dan
pengimplementasian strategi.
Manajemen
strategik adalah suatu yang digunakan oleh manajer dan karyawan dalam
perumusan, pelaksanaan dan evaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan
organisasi mencapai tujuan, termasuk didalamnya mengenai dan menganalisa
lingkungan, memformulasi strategik, mengimplementasikan strategik dan melakukan
evaluasi / pengendalian kegiatan manajemen, sehingga seluruh bagian-bagian atau
unit kerja mempunyai kesamaan berfikir, bertindak dan perpandangan kedepan
serta mempertahankan konsistensi kegiatan pelayanan secara kesinambungan,
menyeluruh dalam mencapai visi rumah sakit dengan efektif dan efisien dalam
penyediaan customer value.
A.2 Langkah - Langkah Manajemen
Strategik
Penerapan
manajemen strategik di Rumah Sakit mencangkup perumusan visi, penentuan misi,
identifikasi strategik (faktor internal dan eksternal), formulasi strategik,
implementasi strategik, serta evaluasi dan kontrol strategik.
Adapun
langkah-langkah penyusunan manajemen strategik pelayanan unit kerja sebagai
berikut:
1.
Identifikasi Strategik
Langkah-langkah
mengindentifikasi strategi pelayanan Rumah Sakit dengan menggunakan analisis
SWOT, analisis SWOT adalah sebuah analisa yang dicetuskan oleh Albert Humprey
pada dasawarsa 1960-1970an, sebagai berikut:
|
S ( Strengths /kekuatan)
|
adalah
atribut bersifat internal yaitu suatu kondisi
yang
merupakan kekuatan dari organisasi yang
membenatu
organisasi/ program untuk berhasil.
|
|
W ( Wewaknesses /kelemahan)
|
Atribut
internal seperti kegiatan-kegiatan yang tidak
berjalan
dengan baik atau sumber daya yang di butuhkan
oleh
organisasi tetapi tidak dimiliki oleh organisasi
sehingga
yang menantang organisasi untuk mencapai
tujuan
|
|
O ( Opportunuties /Peluang)
|
adalah
kondisi eksternal yang merupakan faktor positif
yang
muncul dari lingkungan dan memberikan
kesempatan
bagi organisasi atau program kita untuk
memanfaatkannya
agar dapat meningkatkan
pencapaian
organisasi
|
|
T ( Threats /Ancaman)
|
adalah
kondisi eksternal yang merupakan faktor negatif
dari
lingkungan yang memberikan hambatan bagi
berkembangnya
atau berjalannya suatu organisasi
dan
program untuk pencapaian tujuan.
|
a. Identifikasi faktor internal organisasi
Pimpinan
unit melakukan identifikasi faktor internal organisasi bidang unit pelayanan di
rumah sakit mencangkup tangggung jawab dan kewenangan. Faktor kekuatan dan
kelemahan dari internal organisasi dapat dikaji dari komponen:
1)
Sumber
daya manusia
·
Tersedianya
jumlah dan kualifikasi SDM sesuai jenis pelayanan dan jumlah tempat tidur /
pasien.
·
Tersedianya
pemimpin yang kompeten dan inovatif.
·
Tersedianya
program pendidikan dan pelatiahn.
Berdasarkan
pasal 12 dan 13 Undang-Undang Rumah
Sakit Nomor 44 Tahun 2009, dijelaskan bahwa Rumah Sakit harus memiliki
tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan penunjang medis, tenaga
keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga non
kesehatan. Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja
sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan Rumah sakit, standar prosedur
operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan
mengutamakan keselamatan pasien. yang dimaksud dengan standar profesi adalah
batasan kemampuan (capacity) meliputi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill),
dan sikap profesional (profesional attitude) yanag minimal harus dikuasai oleh
seseorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada
masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi
2)
Faksilitas
·
Tersedianya
fasilitas sarana-prasarana untuk melaksanakan pelayanan sesuai dengan
perkembangan IMTEK
3)
Metode
/ Organisasi
·
Adanya
struktur organisasi bidang dan komite yang berfungsi dengan kebijakan yang
ditetapkan.
·
Tersedianya
kebijakan rumah sakit tentang pelaksanaan pelayanan.
·
Adanya
standar-standar pelayanan dan atau SPO
Yang
dimaksud dengan standar pelayanan rumah sakit adalah pedoman yang harus diikuti
dalam menyelenggaraan Rumah Sakit antara lain Standar Prosedur Operasional,
standar pelayanan medis, dan standar asuhan keperawatan.
Yang
dimaksud dengan standar prosedur opeerasional adalah suatu perangkat intruksi /
langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu.
Standar prosedur operasional memberikan langkah yang benar dan terbaik
berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi
pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar
profesi.
4)
Dana
·
Tersedianya
alokasi anggaran sesuai pengembangan pelayanan kerja unit.
5)
Lingkungan
kerja
·
Suasana
kerja yang kondusif, terciptanya kolegalitas yang baik dan memotivasi
pembelajaran
·
Komunikasi
yang efektif antar karyawan dan tim kerja, terciptanya preseptor dan
mentorship.
b. Identifikasi faktor eksternal organisasi
Pimpinan
unit kerja melakukan identifikasi faktor eksternal organisasi unit kerja rumah
sakit dalam bentuk analisi terhadap peluang dan ancaman dari lingkungan
eksternal,
yang
bersumber dari:
1.
Perkembangan global
2.
Perkembangan nasional
3.
Perubahan demografi dan efidemiologi
4.
Kemajuan iptek kesehatan dan kedokteran
5.
Perkembangan sosial budaya
6.
Arah pengembanga organisasi rumah sakit
7.
Institusi yang bekerja sama dengan organisasi RS
9.
tuntutan masyarakat
10.
dan lain-lain
2. Formulasi Strategik
Langkah
selanjutnya adalah menyusun formulasi strategik yang mencangkup: penentuan
visi, misi, falsafah dan tujuan pelayanan masing-masing unit kerja.
1.
Visi
Rumusan
visi mengambarkan impian pelayanan unit kerja di masa yang akan datang dan
mengacu pada visi rumah sakit.
2.
Misi
Rumusan
misi menggambarkan keberadaan pelayanan unit kerja dan apa yanng harus
dilakukan mencapai visi unit kerja tersebut dan rumah sakit. Misi pelayanan
unit kerja di rumah sakit harus terarah, terukur, dapat di implementasikan
serta terevaluasi, rumusan misi bisa satu atau lebih.
3.
Falsafah
Rumusan
tentang nilai-nilai inti keyakinan dasar unit kerja dan komitmen terhadap
pemberian pelayanan yang berkualitas dan profesional berdasarkan pendidikan
berkelanjutan dan penelitian, pemerataan pelayanan dengan tidak membedakan suku,
bangsa, dan agama, serta memberikan penghormatan dan menjunjung tinggi harkat
martabat manusia. Perumusan falsafah setiap unit harus mengacu kepada visi dan
misi rumah sakit.
4.
Tujuan
i. Umum
Rumusan
terhadap harapan organisasi yang akan dicapai dalam jangka menengah dan panjang
ii. Rumusan tujuan yang akan dicapai
yang mengarah pada kinerja puncak yang dapat diukur pada periode tertentu.
Merumuskan tujuan pelayanan unit kerja disesuaikan dengan peta kekuatan yang
telah ditetapkan.
3. Implementasi Strategik
Langkah-langkah
implementasi strategik dimulai dari menetapkan faktor keberhasilan organisasi,
sasaran dan kinerja kekaryawanan serta indikator keberhasilan,
kebijakan-kebijakan yang mendukung serta rencana kegiatan
a.
Tetapkan faktor keberhasilan
organisasi
Setelah
mengidentifikasi unsur / faktor internal dan eksternal
b.
Penentuan dan kinerja bidang
kekaryawanan serta indikator keberhasilan
Di
setiap unit kerja sekirannya di buat tabel untuk perencanaan kinerja, sebagai
berikut:
|
No
|
Tujuan
|
Sasaran
|
Program
|
Indikator
Keberhasilan
|
|
|
|
|
|
|
c.
Implementasi strategi ke dalam
kebijakan, program dan kegiatan
Untuk
mengimplementasikan strategi dalam rangka mencapai sasaran dan tujuan yang
telah ditetapkan, maka perlu dirumuskan kebijakan-kebijakan strategis yang menjadi
pedoman bagi perumusan dan operasionalisasi program lima tahun dari renstra.
d.
Menyusun rencana kegiatan
mencangkup penanggung jawab, waktu, biaya, target kerja.
4. Evaluasi dan kontrol strategik
Evaluasi
adalah kegiatan untuk membandingkan antara hasil yang telah dicapai dengan
rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluasi merupakan alat penting untuk
membantu pengambilan keputusan dan kebijakan manajemen. Pimpinan unit kerja
hendaknya membuat dan menetapkan instrumen rencana monitoring dan evaluasi.
B.
ORGANISASI RUMAH SAKIT
Dalam
Undang-Undang Rumah Sakit pasal 2
berbunyi Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan pancasila dan didasarkan kepada
nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak
dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta
mempunyai fungsi sosial.
Yang
dimaksud dengan "nilai etika dan
profesionalitas"adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang memiliki etika profesi dan sikap profesional, serta
mematuhi etika rumah sakit.
Rumah
sakit suatu organisasi yang komplek, serta dinamis, terdiri dari
individu-individu dengan kompetensi yang bervariasi, jenis pekerjaan yang
berbeda-beda dari yang rutin, teknis dan profesional, serta memanfaatkan
peralatan yang sederhana sampai canggih.
Organisasi
rumah sakit menurut Undang-Undang Nomor
44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 33 ayat 2, disebutkan bahwa
"Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas kepala rumah sakit,
unsur pelyanan medik, unsur kekaryawanan dan unsur penunjang medik, komite
medik dan satuan pemeriksaan internal serta administrasi umum dan
keuangan."
Pasal 34 ayat 1, "Kepala rumah Sakit harus
seorang tenaga medis yang mempunynai kemampuan dan keahlian di bidang
perumahsakitan." dan ayat 3 "Pemilik
Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit". Yang
dimaksud dengan pemilik Rumah Sakit antara lain komisaris perusahaan, pendiri
yayasan, atau pemerintah daerah dan Kepala Rumah Sakit adalah pimpinan
tertinggi dengan jabatan Direktur Utama (Chief
Executive Officer) termasuk Direktur medis.
Struktur
Organisasi Rumah Sakit diatur dalam peraturan
Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 1046 / Menkes / Per / XI / 2006
tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Di Lingkungan Departemen Kesehatan,
baik untuk RS kelas A,B,C dan D serta RS khusus kelas A, B, dan C. Di Permenkes
tersebut dijelaskan tentang susunan organisasi, klasifikasi RS dan
esseloniasasi di RS.
Rumah
sakit dapat di kategorikan menurut jenis maupun pengelolaannya.
Gambar 1.3 Contoh RS Tipe D
Menurut
jenisnya pelayanan, rumah sakit dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Rumah
Sakit Umum, adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua
bidang dan jenis penyakit, dibagi menjadi:
a.
Rumah Sakit Umum Kelas A
b.
Rumah Sakit Umum Kelas B
c.
Rumah Sakit Umum Kelas C
d.
Rumah Sakit umum Kelas D
2. Rumah
Sakit Khusus, adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada suatu
bidang atau satu jenis penyakit tertentu, berdasarkan disiplin ilmu, golongan
umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan lainnya. Dibagi menjadi:
a.
Rumah Sakit Khusus Kelas A
b.
Rumah Sakit Khusus Kelas B
c.
Rumah Sakit Khusus Kelas C
Klasifikasi
Rumah Sakit Umum dan khusus ditetapkan berdasarkan:
a. Pelayanan;
b. Sumber Daya manusia;
c. Peralatan;
d.
Sarana dan Prasarana; dan
e. Administrasi dan Manajemen
Menurut pengelolaan/ kepemilikan,
rumah sakit dibagi menjadi 2 jenis:
|
JENIS RS
|
KEPEMILIKAN/PENGELOLAAN RS
|
BADAN HUKUM
|
|
RS publik
RS privat
|
1.
Kementerian Kesehatan
2.
Pemerintah Daerah Tk 1
3.
Pemerintah Daerah Tk 2
4.
Kementerian Lain
5.
ABRI/TNI/POLRI
1.
Swasta lainya
2.
Perusahaan
3.
Perseorangan
4.
BUMN
|
Nirlaba
/ Yayasan
PT
/ Persero
|
Struktur
Organisasi RS harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuntabel, dengan maksud bahwa Organisasi
Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi Rumah sakit
dengan menjalankan tata kelola
perusahaan yang baik (good corporate govermance) dan tat kelola klinis yang
baik (good clinical govermance).
Didalam
Undang-Undang Rumah Sakit Nomor 44 tahun
2009 pasal 36, mengamanatkan "seluruh Rumah Sakit harus
menyelenggarakan Tata kelola Rumah Sakit dan Tata kelola Klinik yang
baik."
Karena
organisasi sangat menetukan kualitas pelayanan yang akan diselenggarakan, oleh
karena itu sesuai dengan konsep tata kelola, struktur organisasi rumah sakit
sebaiknya, mempunyai struktur organisasi berdasarkan asas organisasi yang hemat
struktur dan kaya fungsi, yang menggambarkan kewenangan, tanggung jawab, dan
komunikasi dalam menyelenggarakan pelayanan dan antar unit pelayanan di rumah
sakit serta manajemennya, "cross functional
and communication management". Dengan kata lain seluruh struktur
merupakan struktur kerja, operasional.
Selain
itu sehubungan dengan adanya pelayanan yang mengutamakan keselamatan pasien,
maka pelayanan yang terintegrasi antar klinik / medik dengan non medik / non
medik, harus diterapkan sejak pasien masuk sampai keluar rumah sakit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar