Cari Blog Ini

Sabtu, 15 Agustus 2015

Dengan bola mata yang indah kau dan aku berkenalan




Pertemuan kita pada sebuah harapan kelanjutan hidup untuk mengejar masa depan dan harapan dari mimpi-mimpi yang telah dituliskan dalam kisaran hidup yang seru kujalani.
dan kini ku menemukan apa yang hilang pada hati yang lama dalam jauh ditutup, dia hanya seorang gadis yang menurutku istimewa yang bisa membuat senyum serta membuat hati bisa tenang.
Perkenalan itu hingga kini masih terjalin, dia cuek dan tidak terlalu mengangap semua sama, sejak hari itu engkau lantangkan kata-kata bahwa enggaku masih tersisa pada seseorang yang pernah ada pada hatimu yang dulu dan aku mulai risau mendengarnya, apakah itu petanda sebuah perjuanganku kembali atau itu petanda kepergian akan kembali terjadi.
Pertemuan yang hanya sebatas teman dari sebuah perkenalan dalam pekerjaan demi mengisi waktu dan menorekan kemampuan diri pada aplikasi yang tak tentu.
Dan pernah ku lantangkan mimpiku pada nya, jika suatu saat kelak memang kita berjodoh tolong jangan kecewakan hati orang yang berlindung kepadamu.
Dalam kata itu harapan demi harapan terjadi serentak mimpi hanya lewat dari bibir yang terucap, serta seketika kehidupan ini kembali terbangkit dari terpuruknya kejadian 3 tahun yang lalu, dan tak ingin ku mengenang kembali masa itu, dimana masa yang membuat aku sangat tak dapat berkata dan tak dapat melangkah apa yang harusnya ku lakukan pada jejak kaki yang mulai rapuh karna seseorang yang membunuh dan mematahkan impian yang terikat oleh janji yang dibuat olehnya dan dihianati olehnya sendiri.
Dan aku tak mau menjadi sebuah kejadian itu hadir kembali maka dari itu selama 3 tahun kututp hati ini dengan sangat rapat untuk kembali menerima seseorang yang bisa mengisi dan mengilangkan bekas sisa-sisa kepahitan itu.
Sekarang dengan petemuan itu serta perkenalan yang tak disengaja dan hingga terjalin komunikasi serta jalinan yang bak merapat seperti belajar kembali menitik titik demi titik rangakaian hati ini, dan sejalan dengan apa yang terjadi dengannya.
Sempat ku berpikir untuk tidak menerimamu, karena oleh terpuruknya kejadian masa lalu dan beberapa yang terlewatkan seseorang yang kutemui hanya sebatas teman dan sahabat yang beranggapan mereka memiliki rasa terhadapku, namun tidak untuk ku terima karena ku tau hati belom kembali, namun kali ini entah apa yang kurasakan saat pertama tatapan dengan bola matamu yang indah seakan penuh dengan tanya serta jawaban yang membuatku tak tertahan oleh hati yang beku.
berani berkata “KONSISTEN” dengan kata itu yang membuatku tergugah kembali, dan kupesankan untuk dapat menyukai apa yang menjadi hoby ku, dan kau jalani itu, sesuatu yang menjadi harap kini menjadi pudar karna dengan sebuah komunikasi yang susah.
 Tatapanmu masih seperti biasa sejak saat kita bertemu, namun entah itu tatapan apa, ku tak berani berkata karena ku tau akan menyakiti diriku sendiri, dia hanya mimpi.
Itu yang ku tau saat ini.
Jangan takut mimpi masih panjang, cerita masih berlanjut, perjalananmu dan perjalananku masih sangat panjang.
Kita lakukan terbaikbuat mu dan buatku kelak jika tak berjodoh anggap kita teman yang dekat lebih dari sahabat yang tak terputuskan dalam keadaan apapun.

Tanggal 29 mei 2015
Dua hari yang lalu aku mulai melihat ketidakpastian didirinya tampak, dia bagai daun yang jauh telah hanyut terbawa oleh aliran yang jauh mengalir ke mana entah tak tau, dia bukan mata yang ku lihat saat itu, dan bahkan dia mulai melihatkan bahwa dia membuktikan kekuatan hati yang tak ujung yang tak mampu kutebak dalam benak.
Seketika pemikiranku hilang karenanya dan seketikapun pikiranku kembali untuk sebisa mungkin ku bertindak dan bersifat biasa padanya.
Lepaskan hingga benar-benar aku tak bermimpi, anggap biasa seperti sediakala berjumpa, ku tak mau mata itu hanya tatapan godaan bahkan tatapan yang tak pasti yang hanya membuat semua menjadi tak tentu.
Memulai dengan jiwa yang bersih, menatap keindahan mata yang tajam seakan penuh seribu jawaban dan tanda tanya yang membuat mengakui atau mengingkari.
Kejujuranku mulai ragu sejak kulihat dia mulai menghindar entah apa yang ada dipikirannya tentang seorang lelaki atau sebuah hubungan yang komitmen.
 Mungkin ini jalannya dan memang aku yang terlalu terbawa suasana yang membuat aku Nampak memulai hal yang baru kutemui dengan berpikir dia berbeda sehingga aku mulai membuka karena tatapannya sampai kehati.
Setiap saat aq merana, setiap saat bertanya-tanya karena tatapan samapai kehati mungki itu yang pantas menjadi sebuah makna dengan senyuman yang penuh berarti.
Hanya mimpi yang dapat membuat hidup berpariasi mungkin dia salah satunya bagiku adalah mimpi yang tak nyata yang sedikit mengikuti jalan yang ku lalui.
30 mei 2015.
Pagi ini mulai memainkan jemari yang tak bosan mencurahkan kata demi kata pada tulisan yang yang sedang kurangkai, mulai memikirkan suatu keihklasan dan kepasrahan pada kepastian sang pecipta dan pemberi jodoh, hanya harapan yang tak akan lekang pada apapun,bermimpi demi mencapai keinginan yang harus dijalankan dengan sungguh-sunguh.
Huruf demi huruf tertulis dan terangkai bagai kata-kata yang membuat syair hayalan mimpi yang sedang berproses, untuk melanjutkan sebuah cerita yang berawal dari tatapan bola mata yang indah dan cantik, yang menusuk bagai harapan yang nyata.
Sempat terhenti untuk mengungkapkan kata dalam getar gejolak yang membara pada awal mula bertatap, hingga terpojok untuk melupakan dan mengihklaskan apa yang jalan telah tentukan, karena bermimpi lebih indah daripada berhayal pada kenyataan yang palsu, mengharapkan sesuatu yang tidak akan terjadi lebih sulit dari menjalankan yang sudah ada, namun mempertahankan sebuah komitmen yang di sepakati.
Sudah terlalu biasa ku mengalami hal ini, dan selalu belajar dari apa yang terlewatkan dari sebuah langkah hingga sebuah perjalanan.
Buntu pikiran untuk mengungkapkan ini padanya, ketidak pastian selalu menghantuiku, bukan karna ku tak yakin, tapi keraguanku atas sikap dan sifatnya yang membingungkan, yang selalu bertanya ada pola pikiran yang berujung tak berarah.
Menganggap semua sama tak berarti teman, tak berpikir ada jiwa yang tulus karena sebuah pemikiran sudah membentang dari dalam sebuah janji dan kejadian yang membuat semua takut akan terjadi kembali namun tak melihat sisi yang suci, sisi yang tulus, dan sisi yang jujur akan arti sebuah komitmen dan sebuah kata-kata yang berasal dari makna hati yang teramat dalam yang dibumbuhi sebuah ketulusan yang jujur.
Ada sebuah syair yang membuat ini ada padanya, syair yang terangkai dari bibir yang meronta kesakitan akan hal yang terjadi “lukisan yang selalu berbeda setiap hari, setiap berjumpa dengannya, selalu merubah setiap waktu, kadang engkau ceria bermanja, kadang engkau biru, kadang pula engkau menjingga manis”
1 juni 2015
Dimulai dari dua hari yang lalu ketika ahir malam mulai mengahiri bulan, dan pada hari libur yang membuatku liburan berkesan.
Dengan pasir putih, ombak yang bergulung setiap detiknya, serta suasana sepi tak berjumpa manusia yang layaknya pantai yang disuguhi liburan wisatawan. Karena kami dipantai dimana pantai tak bernama, kami menyusuri hutan, menyusuri tebing demi tebing dengan bekal alat camp kami dan peralatan lainnya tapi sayang tak membawa sebuah kail.
Dengan malam yang menyambut dan diterangi bulan yang indah, serta taburan bintang yang pekat, hingga menghampiri pagi dan terlelap sebentar untuk merehatkan fisik.
Pagi menyambut lentaran cahaya belom muncul namun kecerahan disambut pagi dengan remang-remang suasana laut.
Aku duduk ditepi dimana batu karang mengajakku bersahabat hingga cahaya pun datang, bermain ku dengan air dan pasir yang putih dan ditemani suara music yang indah yaitu suara gelombang ombak menerjang karang yang keras.
Memulai menghayal dan berpikir tentang dia, dan berimajenasi “aku tak mau kita seperti goresan yang tertulis dipasir putih pantai yang hanya menyisahkan kenangan ketika ombak datang namun tak berjejak”
Itu sebuah pertemuan yang tak ku harapkan dan bahkan sebuah harapan yang hilang tak berbekas, layaknya dia yang ku jumpa tapi takbertemu jua.
Aku ingin seperti karang walau habis dikikis air laut namun tetap kokoh berdiri dan menjadi sebuah

SEBUAH REALITA TANDA TANYA KETIDAK HADIRAN




Kuhangatkan dalam sebuah cangkir yang menjadi sebuah minuman yang dapat menyegarkan dalam selimut dingin dan dekapan angin yang berhembus silih berganti, menggapai sejuknya dalam angan mimpi.
Yang kini sebuah organisasi yang harus dipupuk kembali dan bangun dengan kokoh pondasinya, dimulai dari anggota yang hilang bak ditelan nya waktu dengan istilah yang sudah menjadi suratan yaitu seleksi alam.
Dengan seikatan nama sebuah organisasi yang dibangun sudah lama mungkin karena ego masih digunakan sehingga pasang surut anggota hialang terganti dan menyurut ditelannya pasang air di sebuah pantai

Selasa, 10 Juni 2014

PAPARAN STUDY ANALISA KOHORT

PENELITIAN PROSPEKTIF
( STUDI KOHORT )
Resiko Kebiasaan Minum Kopi
pada Kasus Toleransi Glukosa
Terganggu terhadap Terjadinya
Diabetes Mellitus Tipe 2PENDAHULUAN

Penyakit diabetes melitus tipe 2 merupakan
penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia disebabkan kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua
-
duanya.
Minum kopi boleh menyebabkan terjadinya
Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) yang
merupakan suatu prakondisi kejadian DM.TUJUAN PENELITIAN

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh
kebiasaan minum kopi pada kasus TGT
terhadap terjadinya DM tipe 2 dan
gambaran laju insidensi DM tipe
2 pada
kasus TGT serta kesintalannya.METODE PENELITIAN

Penelitian merupakan Studi Kohort
Prospektif selama 2 tahun 4 bulan terhadap
289 kasus TGT. Konsumsi kopi dinilai dari
jumlah kandungan kafein. Kadar glukosa
darah pada penderita DM yang berpuasa
adalah ≥126 mg/dL manakala yang tidak
berpuasa adalah ≥200 mg/dL.Langkah-langkah Penelitian Prospektif

Tentukan tujuan penelitian

Rancangan penelitian (satu kohort atau dua
kohort)

Tentukan kelompok terpajan dan kelompok
tidak terpajan (
inclusion criteria
dan
exclusion criteria)

Tentukan lamanya pengamatan dan frekuensi
pengamatan

Hitung besarnya sample yg dibutuhkan

Rancangan analisis yang akan dilakukan
kelompok terpajan:-
Peminum kopi

kelompok tidak terpajan:
-
Bukan peminum kopiTelitian: Temuan penting penelitian ini :

(1) Laju insidensi DM tipe 2 adalah 9,3 per 100
kasus TGT per tahun

(2) konsumsi kopi dengan kafein 240-359,9 mg
per hari hari mempunyai rasio hazard (HR) 2,31
dan kafein

 360 mg per hari mempunyai HR
2,92

(3) mencampur minuman kopi dengan susu atau
krim ditemukan mencegah DM tipe 2 dengan
HR 0,28, aktivitas fisik (indeks 120 menit/hari)
mencegah dengan HR 0,56 dan konsumsi serat

 gram per hari mencegah dengan HR 0,38;
(4) faktor lain yang berisiko adalah:-
a)
konsumsi lemak

 40 gram per hari dengan HR
1,99,
b)
obesitas (IMT

 25) HR 2,24,
c)
obesitas abdominal (RPPL:

0,95; W:

0,85) HR
2,44,
d)
lama minum kopi (

 10 tahun) HR 1,97,
e)
hiperglikemia (

 200 mg/dL) HR 2,74
f)
FFA tinggi (

 0,93 mM) HR 1,88;Rancangan Analisis:
Risiko Relatif (Relative Risk = Risk Ratio)
Risiko Relatif (RR) =
Risiko kelompok terpajan
Risiko kelompok tidak terpajanToleransi Glukosa Terganggu
Pemaparan Toleransi Glukosa
Terganggu
Jumlah Risiko
+ -
Peminum kopi
195
84
279
0.698
Bukan
peminum
94 120 214 0.439
Jumlah 289 204 493 RR = 1.589
Resiko relatif (RR) = 0.698/0,439 = 1.589
Risiko Atribut (RA) = (0.698-0.439) x 100 =
25.9%Nilai RR

RR=1, tidak ada asosiasi antara faktor
risiko dengan penyakit

RR>1, berarti ada asosiasi positif antara
faktor risiko dengan penyakit

RR<1, berarti ada asosiasi negatif antara
faktor risiko dengan penyakitKESIMPULAN

Dari hasil penelitian tersebut,dapat
disimpulkan bahwa peminum kopi
mempunyai resiko 0.698 kali lebih
besar jika dibandingkan dengan bukan
peminum kopi untuk terkena toleransi
glukosa terganggu (TGT), dan
besarnya resiko dapat dihindarkan
dengan terjadi TGT pada peminum
adalah 25.9%.

ANALISA KOHORT KESEHATAN

PENELITIAN KOHORTPENEL ITIAN KOHORTØ  Penjelasan :Penelitian Kohort adalah ranAcangan penelitian epidemiologi analitik observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar berdasarkan status penyakit.Ø  Langkah-Langkah Penelitian Kohort :1.  Merumuskan pertanyaan penelitian2. Penetapan populasi kohort3. Besarnya sampel4. Sumber keterangan keterpaparan5.  Identifikasi subjekØ  Ciri-Ciri Penelitian Kohort :Pemilihan subyek berdasarkan status paparannya, kemudian dilakukan pengamatan dan pencatatan apakah subyek mengalami outcome yang diamati atau tidak. Bisa bersifat retrospektif atau prospektif.Ø  Karakteristik penelitian Kohort :1.  Bersifat observasional2.  Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat3.  Disebut sebagai studi insidens4.  Terdapat kelompok kontrol5.  Terdapat hipotesis spesifik6.  Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif7.  Untuk kohor retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunderØ  Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Kohort :
  • Kelebihan :
1. Kesesuaian dengan logika normal dalam membuat inferensi kausal2. Dapat menghitung laju insidensi3. Untuk meneliti paparan langkah4.  Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan
  • Kekurangan :
1. Lebih mahal dan butuh waktu lama2. Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal3. Tidak efisien dan tidak praktis untuk kasus penyakit langka4.  Risiko untuk hilangnya subyek selama penelitian, karena migrasi, partisipasi rendah atau             meninggalØ  Contoh Penyakit tidak Menular Dalam Penelitian Kohort :Penelitian tentang hubungan antara kehamilan di luar rahim dengan pemakaian IUDPENELITIAN CROSS SECTIONALØ  PenjelasanPenelitian cross sectional adalah penelitian yang mengukur prevalensi penyakit. Oleh karena itu seringkali disebut sebagai penelitian prevalensi. Bertujuan untuk mempelajari hubungan penyakit dengan paparan dengan cara mengamati status paparan dan penyakit secara serentak pada individu dan populasi tunggal pada satu saat atau periode tertentu. Relatif lebih mudah dan murah untuk dikerjakan oleh peneliti dan amat berguna bagi penemuan pemapar yang terikat erat pada karakteristik masing-masing individu. Data yang berasal dari penelitian ini bermanfaat untuk: menaksir besarnya kebutuhan di bidang pelayanan kesehatan dan populasi tersebut. instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data dilakukan melalui:1. Survey2. Wawancara3. Isian KuesionerØ  Langkah-langkah Penelitian Cross Sectional :1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai2. Mengidentifikasi variabel penelitian3.  Menetapkan subjek penelitian4. Melakukan observasi/ pengukuran.Melakukan analisisØ  Ciri-ciri Penelitian Cross Sectional :1. Observasi terhadap variabel bebas (faktor risiko) dan terikat (efek) dilakukan satu kali,        pada saat yang sama.2. Dapat untuk deskriptif maupun analitik3. Dapat diketahui jumlah subyek yg mengalami efek pada kelompok yg mempunyai faktor                 risiko dan yang tidak.4. Rasio prevalens menggambarkan peran faktor risiko terhadap terjadinya efek5. Paling sering digunakan untuk studi klinik/lapanganØ  Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Cross Sectional :
  • Kelebihan :
1. Mudah, ekonomis, hasil cepat didapat2.  Dapat meneliti banyak variabel sekaligus3. Kemungkinan subjek “drop out” kecil4. Dapat sebagai dasar penelitian selanjutnya.
  • Kelemahan :
1. Sulit menetapkan mekanisme sebab akibat2. Kurang tepat untuk mempelajari penyakit dengan kurun waktu sakit pendek3. Kesimpulan korelasi paling lemah dibanding case control atau cohortØ  Contoh Penyakit Tidak Menular Dalam Penelitian Cross Sectional :Penelitian yang akan memmbuktikan hubungan antara tumbuh kembang anak dengan pemberian ASI eksklusifCASE CONTROLØ  PenjelasanPenelitian Case Control adalah rancangan epidemiologis yang mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Mempelajari seberapa jauh faktor risiko mempengaruhi terjadinya efek.
  • Langkah-langkah Penelitian Case Control :
1. Menetapkan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai2. Menetapkan variabel penelitian3. Menetapkan subjek penelitian4. Melakukan pengukuran variabel5. Analisis hasil Karakteristik Penelitian Case ControlØ  Karakteristik Penelitian Case Control :1. Merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif2. Penelitian diawali dengan kelompok kasus dan kelompok kontrol3. Kelompok kontrol digunakan untuk memperkuat ada tidaknya hubungan sebab-akibat
  • Ciri-ciri Penelitian Case Control :
Pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dan populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.Jenis penelitian ini dapat saja berupa penelitian restrospektif bila peneliti melihat ke belakang dengan menggunakan data yang berasal dari masa lalu atau bersifat prospektif bila pengumpulan data berlangsung secara berkesinambungan sering dengan berjalannya waktu. Idealnya penelitian kasus kontrol itu menggunakan kasus (insiden) baru untuk mencegah adanya kesulitan dalam menguraikan faktor yang berhubungan dengan penyebab dan kelangsungan hidup.Ø  Karakteristik Penelitian Case Control :1. Merupakan penelitian observasional yang bersifat retrospektif2. Penelitian diawali dengan kelompok kasus dan kelompok kontrol3. Kelompok kontrol digunakan untuk memperkuat ada tidaknya hubungan sebab-akibat4. Terdapat hipotesis spesifik yang akan diuji secara statistikØ  Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Case Control :
  • Kelebihan :
1. Cocok untuk mempelajari penyakit yang jarang ditemukan2. Hasil cepat, ekonomis3. Subjek penelitian bisa lebih sedikit4. Memungkinkan mengetahui sejumlah faktor risiko yang mungkin berhubungan dengan        penyakit5. Kesimpulan korelasi kurang baik, karena ada pembatasan dan pengendalian faktor risiko6. Tidak mengalami kendala etik
  • Kelemahan :
1. Tidak diketahui pengaruh variabel luar yang tak terkendali dengan teknik matching2. Pemilihan kontrol dengan mathcing akan sulit bila faktor risiko yang di “matching”kan         banyakØ  Contoh Penyakit Tidak Menular Dalam Penelitian Case Control :Penelitian kasus kontrol tentang hubungan antara rokok dan kanker paru-paru

Selasa, 30 Juli 2013

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KORBAN BENCANA



Sumber : PIP2B DPUPESDM Daerah Istimewah Yogyakarta
Fhoto : Tyo fhtografer

Yang sering kali terjadi pada saat pasca bencana adalah, banyak masyarakat (khususnya kaum perempuan) yang belum mampu untuk segera bangkit kembali seperti semula, karena masih merasa trauma dan dirundung kesedihan memikirkan masa depannya yang telah lama dibangun tiba-tiba musnah begitu saja. Mengenang harta bendanya (bahkan nyawa sanak saudaranya) yang menjadi tumbal bencana.

Merekapun masih dirundung galau dan bingung tanpa tahu harus berbuat apa. Hanya bisa berharap pada datangnya distribusi bantuan dari pemerintah maupun donatur dadakan yang memanfaatkan peristiwa memilukan ini sebagai ajang pencitraan diri dan kelompok kepentingannya.

Memprihatinkan memang, tapi ini sulit dicegah karena semuanya mengatasnamakan ‘bantuan kemanusiaan’ dengan membagi konsumsi di tempat pengungsian yang dipenuhi oleh wajah-wajah galau nan kusut masai.

Mungkin kedepan, para sukarelawan bencana yang bertugas tanpa pamrih (walau ada yg bertugas demi pamrih tertentu) bisa mengambil peran yang lebih besar lagi pada saat pasca bencana, dengan melaksanakan program pemberdayaan korban bencana melalui usaha ekonomi produktif yang dikhususkan untuk kaum perempuan, dengan jalan membentuk kelompok belajar usaha (KBU). Artinya, masyarakat korban bencana itu jangan hanya diberi sumbangan ini itu dan disuruh duduk manis di tempat pengungsian menunggu pembagian jatah hidup semata, tetapi mereka juga harus segera dilibatkan dan diajak berbuat sesuatu untuk segera bangkit menyongsong hari esok yang lebih baik sesuai konsep masyarakat tangguh bencana yang dicetuskan oleh BNPB.

Dalam program KBU, anggota kelompok diajak untuk menggali potensi daerahnya yang bisa dijual (diminati pasar) sambil menata puing-puing sisa kerusakan yang masih berserak. Sedang relawan disini bertugas mendampingi, mengarahkan, mengawasi sekaligus membantu memasarkan (mempromosikan) produk yang dihasilkan oleh kelompok dampingannya, sambil tetap melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan yang terkait dengan membantu evakuasi, pemetaan wilayah terdampak, trauma healing, sanitasi, distribusi konsumsi dan kegiatan administrasi kebencanaan lain sesuai perintah kepala pos komando di daerah bencana (seperti BPBD, Bupati, Dandim, Kapolres, Sekda, Bakesbang linmas, Ka. satpol PP, pak camat dan lainnya yang mempunyai kewenangan memerintah).

Pertanyaannya kemudian, bagaimana dengan pendanaan yang akan mendukung program pemberdayaan korban bencana melalui usaha ekonomi produktif ini ?. Disinilah, (mungkin) perlunya segera dibangun kesepahaman antara BNPB/BPBD, dewan pengarah BNPB/BPBD sertaunsur terkait lainnya mengatur pengadaan program pemberdayaan, baik melalui mata anggaran tersendiri atau diambilkan (ditempelkan) pada anggaran program bidang rehab rekon. Semua itu bisa diatur.

Yang perlu diatur adalah, bagaimana melakukan kompromi-kompromi untuk menyamakan persepsi terhadap pentingnya upaya pemberdayaan korban bencana. Jika “political will” dari semua pemangku kepentingan bisa dipahami dan disepakati, maka program pemberdayaan korban bencana pasti terwujud. Sehingga keberadaan sukarelawan itu tidak sekedar sibuk membantu dan menolong korban dalam konteks kebencanaan semata, tapi juga membantu memberdayakan masyarakat korban bencana dengan usaha ekonomi produktif sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan dalam arti luas. … semoga bisa menginspirasi para pembuat kebijakan penyusunan anggaran tahun 2013. wassalam




Sumber : PIP2B DPUPESDM Daerah Istimewah Yogyakart
: Tyo fhtografer
 


Program CSR Bank Muamalat Indonesia yang dilakukan oleh anak perusahaan BMI , Baitu Mal Muamalat (BMM) terus melakukan berbagai upaya bantuan terhadap korban bencana Merapi Yogyakarta yang terjadi pada Oktober 2010 lalu. BMI telah menganggarkan dana sebesar Rp 2 miliar untuk program emergency,rehabilitasi dan recovery korban bencana Merapi. Kini total dana yang telah disalurkan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar Merapi telah mencapai Rp 700 juta dan masih tersedia sekitar Rp 1,3 miliar. Hal tersebut dilaporkan oleh Andi Buchari selaku Direktur Compliance BMI.
“Kini total dana yang telah disalurkan untuk pemberdayaan masyarakat sekitar Merapi telah mencapai Rp 700 juta dan masih tersedia sekitar Rp 1,3 miliar. Dana tersebut digunakan antara lain untuk program tanggap darurat dan perbaikan infrastruktur seperti rumah ibadah dan sanitasi air bersih,” Andi melaporkan di sela peresmian kantor baru BMI Yogyakarta ,pekan lalu.
Selain itu anggaran yang masih tersedia juga akan difokuskan bagi aktivitas recovery dan rehabilitasi . Aktivitas tersebut diantaranya bagi program Komunitas Usaha Mikro Berbasis Masjid (KUM3 ) serta pemberian beasiswa bagi anak-anak korban bencana Merapi,tambah Andi dalam siara persnya.
BMM sebagai anak perusahaan yang telah didirikan pada tahun 2000 ini telah melaksanakan pemberdayaan masyarakat melalui program-program partisipatif dan berkelanjutan. Selain program bantuan bencana , program lain yang telah berhasil dikembangkan oleh BMM adalah ternak ayam pedaging di kecamatan Srumbung, Magelang. Dari program ini telah berhasil dipanen sekitar 7500 ekor ayam dan juga tim BMM juga pelatihan pembuatan batako di desa Kopeng, Kepuharjo, 

Berbagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh BMM , tegas Andi merupakan kegiatan yang partisipatif tidak hanya memulihkan kondisi fisik tetapi juga kondisi ekonomi, social dan psikis mayarakat korban bencana Merapi.
“Kegiatan sosial yang partisipatif kami upayakan tidak hanya memulihkan kondisi fisik, namun juga kondisi ekonomi, social dan psikis masyarakat korban bencana Merapi


REHABILITASI & REKONSTRUKSI

Pemberdayaan Masyarakat
Oleh : TIM TEKNIS NASIONAL REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH PASCA GEMPA BUMI PROVINSI DIY DAN PROVINSI JAWA TENGAH - 2008

KELOMPOK SASARAN

Seperti telah dipaparkan pada uraian terdahulu bahwa sasaran (target) penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan adalah keluarga yang rumahnya rusak dan tidak bisa dihuni, atau apabila dipaksakan ditinggali bisa membahayakan penghuninya. Prioritas bantuan diberikan kepada keluarga miskin yang ditetapkan dan disepakati sendiri oleh masyarakat. Oleh karena penetapan keluarga miskin diserahkan sepenuhnya pada kesepakatan sendiri oleh masyarakat, maka kategori keluarga miskin di daerah perdesaan boleh jadi berbeda dengan kategori keluarga miskin di daerah perkotaan. Demikian juga kategori keluarga miskin di sektor pertanian, boleh jadi berbeda dengan kategori keluarga miskin di sektor jasa dan perdagangan, dan berbeda pula dengan sektor perindustrian.

Mereka difasilitasi supaya mampu membangun rumah sederhana tahan gempa, dan membangun rumah secara swadaya. Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa secara umum program-program rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan telah berhasil menciptakan kondisi yang memungkinkan korban gempa bumi mampu membangun rumah sederhana tahan gempa dan membangun rumah secara swadaya. Di sejumlah daerah tertentu, pembangunan perumahan tahan gempa tersebut berlangsung relatif cepat dan memuaskan, serta berjalan sesuai dengan pedoman konstruksi rumah tahan gempa yang ditetapkan pemerintah. Namun di sejumlah daerah tertentu lainnya, program-program rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan tahan gempa tersebut berjalan lamban, bahkan ditengarai kurang sesuai dengan pedoman konstruksi rumah tahan gempa yang ditetapkan oleh pemerintah.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa kemampuan mereka beragam baik dalam membangun rumah sederhana tahan gempa, maupun dalam membangun rumah secara swadaya? Bukankah mereka memperoleh kesempatan dan akses fasilitas yang kurang lebih sama? Untuk menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut diperlukan pembahasan sedikitnya tentang tiga hal: (1) karakteristik kelompok sasaran (target group), dan partisipasi mereka dalam proses pengambilan keputusan-keputusan penting terkait dengan program-program rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan, (2) akses kelompok sasaran terhadap pelbagai bentuk fasilitas rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan, dan (3) dampak kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap kehidupan sosial ekonomi kelompok sasaran (mencakup: keuntungan ekonomi, manfaat sosial, dan solidaritas sosial).

Penyelenggaraan atau kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan diawali dari mengidentifikasi jumlah rumah yang tergolong rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat. Rumah digolongkan rusak ringan apabila hanya bagian-bagian tertentu saja dari rumah ini yang rusak. Rumah tersebut masih layak dihuni, dan dengan beberapa perbaikan saja (minor) rumah tersebut sudah dapat ditinggali lagi. Rumah digolongkan rusak sedang apabila cukup banyak bagian dari rumah ini yang rusak. Boleh jadi sebagian dari rumah ini masih berdiri (tidak semuanya roboh), tetap sebenarnya tidak layak huni, atau membahayakan penghuni apabila ditempati. Kemudi  rumah digolongkan rusak berat apabila rumah ini roboh, dan tidak layak dihuni.



Kendatipun Tim Fasilitator telah dibekali indikator-indikator rumah rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat, namun penentuan akhir berapa jumlah yang tergolong rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat yang terdapat di tiap-tiap desa diserahkan sepenuhnya pada penilaian masyarakat sendiri.


Masyarakat mempunyai wewenang menentukan kategori kerusakan rumah melalui mekanisme musyawarah. Dalam musyawarah tersebut dibahas jumlah rumah yang rusak, kategori kerusakan rumah (rusak ringan, sedang, dan berat). Dalam musyawarah tersebut dibahas status sosial ekonomi korban gempa, jumlah keluarga yang tergolong miskin, kepala keluarga janda, dan tidak memiliki sanak kerabat. Mekanisme semacam ini diharapkan bukan hanya dapat memperoleh informasi langsung dan lebih akurat, tetapi juga mendorong partisipasi masyarakat dalam menangani masalah-masalah yang muncul dampak dari bencana gempa bumi.




TIM TEKNIS NASIONAL
REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH PASCA GEMPA BUMI PROVINSI DIY DAN PROVINSI JAWA TENGAH (Keppres No. 9 Tahun 2006)

Titik Kritis dan
Kunci Keberhasilan
PENYELENGGARAAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI
PERUMAHAN KORBAN BENCANA GEMPA BUMI
DI PROVINSI DIY DAN JAWA TENGAH

PENYELENGGARAAN RUMAH SAKIT

Rumah Sakit sebagai satah satu faksilitas pelayanan kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dlam mendukunng upaya kesehatan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit mempunyai karakteristik dan organisasi yang sangat kompleks. Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuannya masing-masing berinteraksi satu sama lain. Ilmu pengetahuan daan teknologi kedokteran yang berkembang sangat pesat yang harus diikuti oleh tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu, membuat semakin kompleksnya permasalahan dalam rumah Sakit. Rumah Sakit sebagai salah satu faksilitas pelayanan kesehatan memiliki peran ynag sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Peran strategis ini diperoleh karena rumah sakit adalah faksilitas kesehatan padat teknologi dan padat pakar.

Gambar 1.1 Rumah Sakit Umum Daerah
Rumah Sakit berubah dari organisasi normatif (organisasi sosial) ke arah organisasi utilitarian  (organisasi sosisal-ekonomis), namun fungsi sosial adalah fungsi yang tetap melekat pada institusi rumah sakit apapun bentuk, orientasi dan pola kepemilikannya.

Berdassarkan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentanng Rumah Sakit pasal 33 berbunyi "Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuantabel." Organisasi Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi Rumah Sakit dengan menjalankan tata kelola perusahaannya dengan baik (good corforate govermance) dan tata kliniks yang baik (good clinical govermance). pada bab ini akan di bahas secara satu persatu secara luas.

                                                              Gambaran Umum RS.

A. MANAJEMEN
Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan yang baik maka dibutuhkan berbagai sumber daya yang hars diatur dengan proses manajemen secara baik. Defenisi dari George Terry menyatakan bahwa manajemen terdiri dari planning, organizing, actuacting, dan controling (POAC).1 Manajemen dapat diartikan suatu proses yang menciptakan, memelihara dan mengoperasikan organisasi dengan tujuan tertentu melalui upaya manusia yang sistematis, terkoordinasi dan koperatif. Suatu proses menganalisa, menerapkan tujuan, sasaran, erta penjabaran tugas dan kewajiban secara baik dan efisien. Proses pemanfaatan sumber daya manusia (SDM), uang, bahan dan alat yang dianalisis dan diatur secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dan meliputi perencanaan, pengorganisasian, pergerakan dan pengawasan SDM, sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan (Marsum.dkk., 2007).

Manajemen rumah sakit adalah koordinasi antara berbagai sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian, dan adanya kemampuan pengendalian untuk mencapai tujuan.

gaya manjemen yang banyak dianut adalah Total  Quality Manajemen/ TQM adalah manajemen yang dimuali dari jepang pada tahun 1950, dimana TQM adalah sistem manajemen yang mengelola perusahaan dan kegiatannya dengan mengikutsertakan seluruh jawaran karyawan untuk berperan serta bersama dalam mengembangkan dan meningkatkan mutu disegala bidang demi kepuasan pelanggan.

Tujuan manajemen rumah sakit seperti berikut ini:
1. Menyiapkan sumber daya.
2. Mengevaluasi efektifitas.
3. Mengatur pemakaian pelayanan.
4. Efisiensi.
5. Kualitas.
Dalam kegiatan organisasi rumah sakit yang kompleks pengalaman saja tidak cukup, penanganannya tidak bisa lagi atas dasar kira-kira dan selera, hal-hal ini disebabkan oleh:
a.    Sumber daya yang semakin sulit dan mahal.
b.    Era kompetisi yang menuntut pelayanan prima.
c.    Tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.
Dalam rangka melaksanakan pelayanan yang berorientasi pada pasien, dan menjaga mutu pelayanan perlu dengan manajemen yang handal, dengan demikian segala hal yang diperlukan akan tersedia dalam bentuk:
1.    Tepat jumlah
2.    Tepat waktu
3.    Tepat sasaran
WHO pada tahun 1966 mengelurkan wold health statistic annual  yang menyatakan bahwa institusi baru dapat disebut rumah sakit bila setidaknya punnya 1 dokter tetap. Pada dasarnya sumber daya dibagi menjadi sumber daya manusia dan sumber daya non manusia. 2

Tabel Risalah RSUD Serang.


Tabel manajemen di Rumah Sakit
Sumber Daya +
Proses Manajemen
Menghasilkan
Pelayanan Pada pasien
Uang
Peralatan
Waktu
Informasi
Tenaga
Planning
Organizing
Staffing
Directing
Controlling
Reviewing
Communicating
Coordinating
Decision Maker
Pelayanan prepenitf, kuratif dan rehabilitatif rawat jalan, rawat inap dan rawat darurat.

Manajemen lilngkungan rumah sakit merupakan manajemen yang tidak statis, tetapi sesuatu yang dinamis sehingga diperlukan adaptasi atau penyesuaian bila terjadi perubahan di rumah sakit, yang mencangkup sumber daya, proses dan kegiatan rumah sakit, juga apabila terjadi perubahan di luar rumah sakit, misalnya perubahan peraturan perundang-undangan dan pengetahuan yang disebabkan oleh perkembangan teknologi.

Gelombang globalisasi telah menciptakan tantangan bagi rumah sakit yang semakin besar, yaitu kompetisi (competition) yang semakin ketat dan pelanggan (costumer) yang semakin selektif dan berpengetahuan. Tantangan seperti ini mengahadapkan para pelaku pelayanan kesehatan khususnyna rumah sakit baik pihak pemerintah maupun swasta pada dua pilihan, yaitu masuk dalam arena kompetisi dengan melakukan perubahan dan perbaikan. Bidang kesehatan yang paling terpengaruh oleh dampak globalisasi, antara lain bidang perumahsakitan, tenaga kesehatan, industri farmasi, kesehatan dan asuransi kesehatan. Di bidang perumahsakitan misalnya, manajemen pelayanan kesehatan belum efisien maka mutunya masih relatif rendah. Rumah sakit sebagai salah satu unit pelaksana pelayanan kesehatan harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada para pengguna jasa pelayanan karena pelayanan yang berkualitas sangat diharapkan oleh para pengguna jasa pelayanan. Peningkatan kualitas pelayanan adalah salah satu isu yang sangat dalam manajemen, baik dalam sektor pemerintah maupun sektor swasta. Terjadi karena disatu sisi tuntutan masyarakat terhadap perbaikan pelayanan dari tahun ke tahun menjadi semakin besar, sedangkan disisi praktik penyelenggaraan pelayanan tidak mengalami perbaikan yang berarti.
Pelayanan kesehatan dituntut untuk lebih memfokuskan pada kebutuhan pelanggan, sejalan dengan meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan yang lebih baik, dan perkembangan teknologi.

Penyelenggaraan kegiatan pelayanan di rumah sakit juga tidak terlepas dari resiko dari yang ringan sampai yang berat dan fatal, kehilangan nyawa. Konsekuensi dari hal-hal tersebut mengharuskan organisasi rumah sakit menerapkan konsep organisasi manajemen yang sangat mengutamakan tingkat akurasi dan ketelitian serta kehati-hatian yang tinggi, demikianpun dengan tingkat kedisiplinan yang ketat. Selain itu karena erat kaitannya dengan manusia maka nilai-niali kehidupan harus dikemukakan dalam penyelenggaraan pelayanannnya. Oleh karena menyakut manusia maka seluruh aspek-aspek humanisme seperti sosial, etika, dan profesionalisme merupakan landasan utama pada penyelenggaraan seluruh aktifitas pelayanan kesehatan.
Masyarakat yang akan dilayani adalah orang sakit, our patient is sick peson, who need help. konsep inti pada Pennyelenggaraan Layanan RS adalah mengobati dan merawa pasien yang datang untuk meminta bantuan pengobatan / karyawan, baik secara rutin maupun yang bersifat emergensi life saving. Jadi inti dari penyelenggaraan manajemen rumah sakit adalah mengelola pasien.
Manajemen strategis diperlukan agar pelayanan kekaryawanan di rumah sakit dapa dilaksanakan secara efektif dan efisien, Penyusunan manajemen strategis menggunakan sumber-sumber yang tersedia baik didalam maupun di luar organisasi.
sesuai dengan tahapan yang ada dalam manajemen, dalam penerapan proses unit kerja tidak terlepas dari fungsi-fungsi manajemen, yang terdiri dari:
a.        Perencanaan (Planning)
Pada tahap perencanaan dalam penerapan proses unit kerja, Dokter harus menyusun perencanaan asuhan sesuai dengan filosofi, tujuan, sasaran pelayanan unit kerja, kebijakan, peraturan dan prosedur yang berlaku, dan mengantisipasi jika terjadi perubahan terhadap rencana yang telah disusun.
b.        Pengorganisasian (organizing)
Implementasi pengorganisasian dalam penerapan proses unit kerja adalah melalui struktur yang di susun dalam melaksanakan perencanaan dan kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan. Contoh metode penugasan yang digunakan, metode pemberian asuhan unit kerja tim, primer atau manajemen kasus. Fungsi lain pengorganisasian dalam penerapan proses unit kerja adalah meliputi penggunaan wewenang  yang sesuai. Seperti pembagian tugas yang sesuai mulai dari kepala ruangan sampai ke Dokter pelaksana sesuai dnegan wewenang dan tanggung jawabnya.  

c.         Pengelolaan Staf (Staffing)
Fungsi Staffing dalam penerapan proses unit kerja, harus sudah dimulai sejak pelaksanaan rekrutmen, orientasi, penjadwalan, dan pengembangan staf. Karena jenis dan kualitas tenaga sangat menentukan mutu pelayanan yang diberikan. Contoh: peraturan jadwal dinas Dokter harus sesuai ndengan pemerataan kemampuan Dokter di setiap shift, jumlah dan tingkat ketergantungan pasien, sehingga proses unit kerja dapat dilaksanakan dengan baik.
d.        Pengarahan (Directing)
Fungsi pengarahan dalam penerapan proses uni kerja, pengelolaan sumber daya manusia unit kerja, meliputi pemberian motivasi dalam pelaksanaan asuhan unit kerja, pendelegasian tugas, melakukan komunikasi terapeutik dan meakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain. Misalnya memfaksilitasi penyelesaian masalah apabila timbul konflik sesama Dokter dengan terhadap perubahan jadwal dinas.
e.         Pengendalian (Controling)
Fungsi pengendalian ndalam peneraan proses unit kerja meliputi penilaian penampilan kerja dalam memberikan asuhan yang telah diberikan, pertanggungjawaban terhadap kelayakan keuangan, pengendalian profesional dan kesejawatan. Evaluasi penilaian kinerja dilaksanakan kepada seluruh Dokter, pada setiap tahapan dari fungsi manajemen.

Era globalisasi dan pasar bebas tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang memadai semakin meningkat dan memacu Rumah Sakit (RS) untuk memberikan layanan terbaik agar tidak dimarginalkan oleh masyarakat. Persaingan di bidang perumahsakitan semakin tajam, bukan hanya dalam jumlah, tapi juga agresifitas rumah sakit pesaing yang menerapkan keunggulan kompetitif agar bertahan dalam persaingan. Dalam kondisi persaingan yang ketat hal utama yang perlu diprioritaskan oleh rumah sakit adalah bagaimana strategi peningkatan mutu pelayanan terhadapap pelanggan. Pelayanan yang diberikan agar lebih baik perlu adanya perencanaan strategi yang baik dalam peningkatan mutu pelayanan yang berkesinambungan dan paripurna.A.1 Manajemen Stategik
Manajemen strategi adalah suatu proses untuk merumuskan dan menngimplementasikan strategi dalam penyediaan costumer value untuk mewujudkan visi organisasi. Manajemen strategi merupakan suatu proses. Manajemen strategi mencangkup dua proses utama yaitu perumusan strategi dan pengimplementasian strategi.
Manajemen strategik adalah suatu yang digunakan oleh manajer dan karyawan dalam perumusan, pelaksanaan dan evaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan, termasuk didalamnya mengenai dan menganalisa lingkungan, memformulasi strategik, mengimplementasikan strategik dan melakukan evaluasi / pengendalian kegiatan manajemen, sehingga seluruh bagian-bagian atau unit kerja mempunyai kesamaan berfikir, bertindak dan perpandangan kedepan serta mempertahankan konsistensi kegiatan pelayanan secara kesinambungan, menyeluruh dalam mencapai visi rumah sakit dengan efektif dan efisien dalam penyediaan customer value.

A.2 Langkah - Langkah Manajemen Strategik
Penerapan manajemen strategik di Rumah Sakit mencangkup perumusan visi, penentuan misi, identifikasi strategik (faktor internal dan eksternal), formulasi strategik, implementasi strategik, serta evaluasi dan kontrol strategik.
Adapun langkah-langkah penyusunan manajemen strategik pelayanan unit kerja sebagai berikut:
1.        Identifikasi Strategik
Langkah-langkah mengindentifikasi strategi pelayanan Rumah Sakit dengan menggunakan analisis SWOT, analisis SWOT adalah sebuah analisa yang dicetuskan oleh Albert Humprey pada dasawarsa 1960-1970an, sebagai berikut:

   S ( Strengths /kekuatan)
adalah atribut bersifat internal yaitu suatu kondisi
yang merupakan kekuatan dari organisasi yang
membenatu organisasi/ program untuk berhasil.
W ( Wewaknesses /kelemahan)
Atribut internal seperti kegiatan-kegiatan yang tidak
berjalan dengan baik atau sumber daya yang di butuhkan
oleh organisasi tetapi tidak dimiliki oleh organisasi
sehingga yang menantang organisasi untuk mencapai
tujuan 

O ( Opportunuties /Peluang)
adalah kondisi eksternal yang merupakan faktor positif
yang muncul dari lingkungan dan memberikan
kesempatan bagi organisasi atau program kita untuk
memanfaatkannya agar dapat meningkatkan
pencapaian organisasi  
T ( Threats /Ancaman)
adalah kondisi eksternal yang merupakan faktor negatif
dari lingkungan yang memberikan hambatan bagi
berkembangnya atau berjalannya suatu organisasi
dan program untuk pencapaian tujuan. 

a.  Identifikasi faktor internal organisasi
Pimpinan unit melakukan identifikasi faktor internal organisasi bidang unit pelayanan di rumah sakit mencangkup tangggung jawab dan kewenangan. Faktor kekuatan dan kelemahan dari internal organisasi dapat dikaji dari komponen:
1)        Sumber daya manusia
·           Tersedianya jumlah dan kualifikasi SDM sesuai jenis pelayanan dan jumlah tempat tidur / pasien.
·           Tersedianya pemimpin yang kompeten dan inovatif.
·           Tersedianya program pendidikan dan pelatiahn.
Berdasarkan pasal 12 dan 13 Undang-Undang Rumah Sakit Nomor 44 Tahun 2009, dijelaskan bahwa Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang meliputi tenaga medis dan penunjang medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga non kesehatan. Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan Rumah sakit, standar prosedur operasional yang berlaku, etika profesi, menghormati hak pasien dan mengutamakan keselamatan pasien. yang dimaksud dengan standar profesi adalah batasan kemampuan (capacity) meliputi pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap profesional (profesional attitude) yanag minimal harus dikuasai oleh seseorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi
2)        Faksilitas
·           Tersedianya fasilitas sarana-prasarana untuk melaksanakan pelayanan sesuai dengan perkembangan IMTEK
3)        Metode / Organisasi
·           Adanya struktur organisasi bidang dan komite yang berfungsi dengan kebijakan yang ditetapkan.
·           Tersedianya kebijakan rumah sakit tentang pelaksanaan pelayanan.
·           Adanya standar-standar pelayanan dan atau SPO
Yang dimaksud dengan standar pelayanan rumah sakit adalah pedoman yang harus diikuti dalam menyelenggaraan Rumah Sakit antara lain Standar Prosedur Operasional, standar pelayanan medis, dan standar asuhan keperawatan.
Yang dimaksud dengan standar prosedur opeerasional adalah suatu perangkat intruksi / langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan proses kerja rutin tertentu. Standar prosedur operasional memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar profesi.
4)        Dana
·           Tersedianya alokasi anggaran sesuai pengembangan pelayanan kerja unit.
5)        Lingkungan kerja
·           Suasana kerja yang kondusif, terciptanya kolegalitas yang baik dan memotivasi pembelajaran
·           Komunikasi yang efektif antar karyawan dan tim kerja, terciptanya preseptor dan mentorship.

b.  Identifikasi faktor eksternal organisasi
Pimpinan unit kerja melakukan identifikasi faktor eksternal organisasi unit kerja rumah sakit dalam bentuk analisi terhadap peluang dan ancaman dari lingkungan eksternal,
yang bersumber dari:
1. Perkembangan global
2. Perkembangan nasional
3. Perubahan demografi dan efidemiologi
4. Kemajuan iptek kesehatan dan kedokteran
5. Perkembangan sosial budaya
6. Arah pengembanga organisasi rumah sakit
7. Institusi yang bekerja sama dengan organisasi RS
9. tuntutan masyarakat
10. dan lain-lain

2.    Formulasi Strategik
Langkah selanjutnya adalah menyusun formulasi strategik yang mencangkup: penentuan visi, misi, falsafah dan tujuan pelayanan masing-masing unit kerja.
1.    Visi
Rumusan visi mengambarkan impian pelayanan unit kerja di masa yang akan datang dan mengacu pada visi rumah sakit.
2.    Misi
Rumusan misi menggambarkan keberadaan pelayanan unit kerja dan apa yanng harus dilakukan mencapai visi unit kerja tersebut dan rumah sakit. Misi pelayanan unit kerja di rumah sakit harus terarah, terukur, dapat di implementasikan serta terevaluasi, rumusan misi bisa satu atau lebih.
3.    Falsafah
Rumusan tentang nilai-nilai inti keyakinan dasar unit kerja dan komitmen terhadap pemberian pelayanan yang berkualitas dan profesional berdasarkan pendidikan berkelanjutan dan penelitian, pemerataan pelayanan dengan tidak membedakan suku, bangsa, dan agama, serta memberikan penghormatan dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia. Perumusan falsafah setiap unit harus mengacu kepada visi dan misi rumah sakit.
4.    Tujuan
                                  i.     Umum
Rumusan terhadap harapan organisasi yang akan dicapai dalam jangka menengah dan panjang
                                ii.     Rumusan tujuan yang akan dicapai yang mengarah pada kinerja puncak yang dapat diukur pada periode tertentu. Merumuskan tujuan pelayanan unit kerja disesuaikan dengan peta kekuatan yang telah ditetapkan.

3.    Implementasi Strategik
Langkah-langkah implementasi strategik dimulai dari menetapkan faktor keberhasilan organisasi, sasaran dan kinerja kekaryawanan serta indikator keberhasilan, kebijakan-kebijakan yang mendukung serta rencana kegiatan
a.    Tetapkan faktor keberhasilan organisasi
Setelah mengidentifikasi unsur / faktor internal dan eksternal
b.    Penentuan dan kinerja bidang kekaryawanan serta indikator keberhasilan
Di setiap unit kerja sekirannya di buat tabel untuk perencanaan kinerja, sebagai berikut:
No

Tujuan
Sasaran
Program
Indikator
Keberhasilan










c.    Implementasi strategi ke dalam kebijakan, program dan kegiatan
Untuk mengimplementasikan strategi dalam rangka mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan, maka perlu dirumuskan kebijakan-kebijakan strategis yang menjadi pedoman bagi perumusan dan operasionalisasi program lima tahun dari renstra.
d.    Menyusun rencana kegiatan mencangkup penanggung jawab, waktu, biaya, target kerja.

4.    Evaluasi dan kontrol strategik
Evaluasi adalah kegiatan untuk membandingkan antara hasil yang telah dicapai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluasi merupakan alat penting untuk membantu pengambilan keputusan dan kebijakan manajemen. Pimpinan unit kerja hendaknya membuat dan menetapkan instrumen rencana monitoring dan evaluasi.



B. ORGANISASI RUMAH SAKIT
Dalam Undang-Undang Rumah Sakit pasal 2 berbunyi Rumah Sakit diselenggarakan berasaskan pancasila dan didasarkan kepada nilai kemanusiaan, etika dan profesionalitas, manfaat, keadilan, persamaan hak dan anti diskriminasi, pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien, serta mempunyai fungsi sosial.
Yang dimaksud dengan "nilai etika dan profesionalitas"adalah bahwa penyelenggaraan rumah sakit dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki etika profesi dan sikap profesional, serta mematuhi etika rumah sakit.
Rumah sakit suatu organisasi yang komplek, serta dinamis, terdiri dari individu-individu dengan kompetensi yang bervariasi, jenis pekerjaan yang berbeda-beda dari yang rutin, teknis dan profesional, serta memanfaatkan peralatan yang sederhana sampai canggih.
Organisasi rumah sakit menurut Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 33 ayat 2, disebutkan bahwa "Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas kepala rumah sakit, unsur pelyanan medik, unsur kekaryawanan dan unsur penunjang medik, komite medik dan satuan pemeriksaan internal serta administrasi umum dan keuangan."
Pasal 34 ayat 1, "Kepala rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunynai kemampuan dan keahlian di bidang perumahsakitan." dan ayat 3 "Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit". Yang dimaksud dengan pemilik Rumah Sakit antara lain komisaris perusahaan, pendiri yayasan, atau pemerintah daerah dan Kepala Rumah Sakit adalah pimpinan tertinggi dengan jabatan Direktur Utama (Chief Executive Officer) termasuk Direktur medis.
Struktur Organisasi Rumah Sakit diatur dalam peraturan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 1046 / Menkes / Per / XI / 2006 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Di Lingkungan Departemen Kesehatan, baik untuk RS kelas A,B,C dan D serta RS khusus kelas A, B, dan C. Di Permenkes tersebut dijelaskan tentang susunan organisasi, klasifikasi RS dan esseloniasasi di RS.

Rumah sakit dapat di kategorikan menurut jenis maupun pengelolaannya.
Gambar 1.3 Contoh RS Tipe D
Menurut jenisnya pelayanan, rumah sakit dapat dikategorikan sebagai berikut:
1.  Rumah Sakit Umum, adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan semua bidang dan jenis penyakit, dibagi menjadi:
a. Rumah Sakit Umum Kelas A
b. Rumah Sakit Umum Kelas B
c. Rumah Sakit Umum Kelas C
d. Rumah Sakit umum Kelas D
2.  Rumah Sakit Khusus, adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan utama pada suatu bidang atau satu jenis penyakit tertentu, berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit atau kekhususan lainnya. Dibagi menjadi:
a. Rumah Sakit Khusus Kelas A
b. Rumah Sakit Khusus Kelas B
c. Rumah Sakit Khusus Kelas C
Klasifikasi Rumah Sakit Umum dan khusus ditetapkan berdasarkan:
a.  Pelayanan;
b.  Sumber Daya manusia;
c.  Peralatan;
d. Sarana dan Prasarana; dan
e.  Administrasi dan Manajemen
Menurut pengelolaan/ kepemilikan, rumah sakit dibagi menjadi 2 jenis:
JENIS RS
KEPEMILIKAN/PENGELOLAAN RS
BADAN HUKUM

RS publik


RS privat
1. Kementerian Kesehatan
2. Pemerintah Daerah Tk 1
3. Pemerintah Daerah Tk 2
4. Kementerian Lain
5. ABRI/TNI/POLRI

1. Swasta lainya
2. Perusahaan
3. Perseorangan
4. BUMN

Nirlaba / Yayasan


PT / Persero

Struktur Organisasi RS harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuntabel, dengan maksud bahwa Organisasi Rumah Sakit disusun dengan tujuan untuk mencapai visi dan misi Rumah sakit dengan menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate govermance) dan tat kelola klinis yang baik (good clinical govermance).
Didalam Undang-Undang Rumah Sakit Nomor 44 tahun 2009 pasal 36, mengamanatkan "seluruh Rumah Sakit harus menyelenggarakan Tata kelola Rumah Sakit dan Tata kelola Klinik yang baik."
Karena organisasi sangat menetukan kualitas pelayanan yang akan diselenggarakan, oleh karena itu sesuai dengan konsep tata kelola, struktur organisasi rumah sakit sebaiknya, mempunyai struktur organisasi berdasarkan asas organisasi yang hemat struktur dan kaya fungsi, yang menggambarkan kewenangan, tanggung jawab, dan komunikasi dalam menyelenggarakan pelayanan dan antar unit pelayanan di rumah sakit serta manajemennya, "cross functional and communication management". Dengan kata lain seluruh struktur merupakan struktur kerja, operasional.


Selain itu sehubungan dengan adanya pelayanan yang mengutamakan keselamatan pasien, maka pelayanan yang terintegrasi antar klinik / medik dengan non medik / non medik, harus diterapkan sejak pasien masuk sampai keluar rumah sakit.