Pertemuan kita pada
sebuah harapan kelanjutan hidup untuk mengejar masa depan dan harapan dari
mimpi-mimpi yang telah dituliskan dalam kisaran hidup yang seru kujalani.
dan kini ku menemukan apa yang hilang pada hati yang lama dalam jauh ditutup, dia hanya seorang gadis yang menurutku istimewa yang bisa membuat senyum serta membuat hati bisa tenang.
dan kini ku menemukan apa yang hilang pada hati yang lama dalam jauh ditutup, dia hanya seorang gadis yang menurutku istimewa yang bisa membuat senyum serta membuat hati bisa tenang.
Perkenalan itu hingga
kini masih terjalin, dia cuek dan tidak terlalu mengangap semua sama, sejak
hari itu engkau lantangkan kata-kata bahwa enggaku masih tersisa pada seseorang
yang pernah ada pada hatimu yang dulu dan aku mulai risau mendengarnya, apakah
itu petanda sebuah perjuanganku kembali atau itu petanda kepergian akan kembali
terjadi.
Pertemuan yang hanya
sebatas teman dari sebuah perkenalan dalam pekerjaan demi mengisi waktu dan
menorekan kemampuan diri pada aplikasi yang tak tentu.
Dan pernah ku
lantangkan mimpiku pada nya, jika suatu saat kelak memang kita berjodoh tolong
jangan kecewakan hati orang yang berlindung kepadamu.
Dalam kata itu harapan
demi harapan terjadi serentak mimpi hanya lewat dari bibir yang terucap, serta
seketika kehidupan ini kembali terbangkit dari terpuruknya kejadian 3 tahun
yang lalu, dan tak ingin ku mengenang kembali masa itu, dimana masa yang
membuat aku sangat tak dapat berkata dan tak dapat melangkah apa yang harusnya
ku lakukan pada jejak kaki yang mulai rapuh karna seseorang yang membunuh dan
mematahkan impian yang terikat oleh janji yang dibuat olehnya dan dihianati
olehnya sendiri.
Dan aku tak mau menjadi
sebuah kejadian itu hadir kembali maka dari itu selama 3 tahun kututp hati ini
dengan sangat rapat untuk kembali menerima seseorang yang bisa mengisi dan
mengilangkan bekas sisa-sisa kepahitan itu.
Sekarang dengan
petemuan itu serta perkenalan yang tak disengaja dan hingga terjalin komunikasi
serta jalinan yang bak merapat seperti belajar kembali menitik titik demi titik
rangakaian hati ini, dan sejalan dengan apa yang terjadi dengannya.
Sempat ku berpikir
untuk tidak menerimamu, karena oleh terpuruknya kejadian masa lalu dan beberapa
yang terlewatkan seseorang yang kutemui hanya sebatas teman dan sahabat yang
beranggapan mereka memiliki rasa terhadapku, namun tidak untuk ku terima karena
ku tau hati belom kembali, namun kali ini entah apa yang kurasakan saat pertama
tatapan dengan bola matamu yang indah seakan penuh dengan tanya serta jawaban
yang membuatku tak tertahan oleh hati yang beku.
berani berkata “KONSISTEN” dengan kata itu yang membuatku tergugah kembali, dan kupesankan untuk dapat menyukai apa yang menjadi hoby ku, dan kau jalani itu, sesuatu yang menjadi harap kini menjadi pudar karna dengan sebuah komunikasi yang susah.
berani berkata “KONSISTEN” dengan kata itu yang membuatku tergugah kembali, dan kupesankan untuk dapat menyukai apa yang menjadi hoby ku, dan kau jalani itu, sesuatu yang menjadi harap kini menjadi pudar karna dengan sebuah komunikasi yang susah.
Tatapanmu masih seperti biasa sejak saat kita
bertemu, namun entah itu tatapan apa, ku tak berani berkata karena ku tau akan
menyakiti diriku sendiri, dia hanya mimpi.
Itu yang ku tau saat
ini.
Jangan takut mimpi
masih panjang, cerita masih berlanjut, perjalananmu dan perjalananku masih
sangat panjang.
Kita lakukan
terbaikbuat mu dan buatku kelak jika tak berjodoh anggap kita teman yang dekat
lebih dari sahabat yang tak terputuskan dalam keadaan apapun.
Tanggal 29 mei 2015
Dua hari yang lalu aku
mulai melihat ketidakpastian didirinya tampak, dia bagai daun yang jauh telah
hanyut terbawa oleh aliran yang jauh mengalir ke mana entah tak tau, dia bukan
mata yang ku lihat saat itu, dan bahkan dia mulai melihatkan bahwa dia
membuktikan kekuatan hati yang tak ujung yang tak mampu kutebak dalam benak.
Seketika pemikiranku
hilang karenanya dan seketikapun pikiranku kembali untuk sebisa mungkin ku
bertindak dan bersifat biasa padanya.
Lepaskan hingga
benar-benar aku tak bermimpi, anggap biasa seperti sediakala berjumpa, ku tak
mau mata itu hanya tatapan godaan bahkan tatapan yang tak pasti yang hanya
membuat semua menjadi tak tentu.
Memulai dengan jiwa
yang bersih, menatap keindahan mata yang tajam seakan penuh seribu jawaban dan
tanda tanya yang membuat mengakui atau mengingkari.
Kejujuranku mulai ragu
sejak kulihat dia mulai menghindar entah apa yang ada dipikirannya tentang
seorang lelaki atau sebuah hubungan yang komitmen.
Mungkin ini jalannya dan memang aku yang terlalu
terbawa suasana yang membuat aku Nampak memulai hal yang baru kutemui dengan
berpikir dia berbeda sehingga aku mulai membuka karena tatapannya sampai
kehati.
Setiap saat aq merana,
setiap saat bertanya-tanya karena tatapan samapai kehati mungki itu yang pantas
menjadi sebuah makna dengan senyuman yang penuh berarti.
Hanya mimpi yang dapat
membuat hidup berpariasi mungkin dia salah satunya bagiku adalah mimpi yang tak
nyata yang sedikit mengikuti jalan yang ku lalui.
30 mei 2015.
Pagi ini mulai
memainkan jemari yang tak bosan mencurahkan kata demi kata pada tulisan yang
yang sedang kurangkai, mulai memikirkan suatu keihklasan dan kepasrahan pada
kepastian sang pecipta dan pemberi jodoh, hanya harapan yang tak akan lekang
pada apapun,bermimpi demi mencapai keinginan yang harus dijalankan dengan
sungguh-sunguh.
Huruf demi huruf
tertulis dan terangkai bagai kata-kata yang membuat syair hayalan mimpi yang
sedang berproses, untuk melanjutkan sebuah cerita yang berawal dari tatapan
bola mata yang indah dan cantik, yang menusuk bagai harapan yang nyata.
Sempat terhenti untuk
mengungkapkan kata dalam getar gejolak yang membara pada awal mula bertatap,
hingga terpojok untuk melupakan dan mengihklaskan apa yang jalan telah
tentukan, karena bermimpi lebih indah daripada berhayal pada kenyataan yang
palsu, mengharapkan sesuatu yang tidak akan terjadi lebih sulit dari
menjalankan yang sudah ada, namun mempertahankan sebuah komitmen yang di
sepakati.
Sudah terlalu biasa ku
mengalami hal ini, dan selalu belajar dari apa yang terlewatkan dari sebuah
langkah hingga sebuah perjalanan.
Buntu pikiran untuk
mengungkapkan ini padanya, ketidak pastian selalu menghantuiku, bukan karna ku
tak yakin, tapi keraguanku atas sikap dan sifatnya yang membingungkan, yang
selalu bertanya ada pola pikiran yang berujung tak berarah.
Menganggap semua sama
tak berarti teman, tak berpikir ada jiwa yang tulus karena sebuah pemikiran
sudah membentang dari dalam sebuah janji dan kejadian yang membuat semua takut
akan terjadi kembali namun tak melihat sisi yang suci, sisi yang tulus, dan
sisi yang jujur akan arti sebuah komitmen dan sebuah kata-kata yang berasal
dari makna hati yang teramat dalam yang dibumbuhi sebuah ketulusan yang jujur.
Ada sebuah syair yang
membuat ini ada padanya, syair yang terangkai dari bibir yang meronta kesakitan
akan hal yang terjadi “lukisan yang
selalu berbeda setiap hari, setiap berjumpa dengannya, selalu merubah setiap
waktu, kadang engkau ceria bermanja, kadang engkau biru, kadang pula engkau
menjingga manis”
1 juni 2015
Dimulai dari dua hari
yang lalu ketika ahir malam mulai mengahiri bulan, dan pada hari libur yang membuatku
liburan berkesan.
Dengan pasir putih,
ombak yang bergulung setiap detiknya, serta suasana sepi tak berjumpa manusia
yang layaknya pantai yang disuguhi liburan wisatawan. Karena kami dipantai
dimana pantai tak bernama, kami menyusuri hutan, menyusuri tebing demi tebing
dengan bekal alat camp kami dan peralatan lainnya tapi sayang tak membawa
sebuah kail.
Dengan malam yang
menyambut dan diterangi bulan yang indah, serta taburan bintang yang pekat,
hingga menghampiri pagi dan terlelap sebentar untuk merehatkan fisik.
Pagi menyambut lentaran
cahaya belom muncul namun kecerahan disambut pagi dengan remang-remang suasana
laut.
Aku duduk ditepi dimana
batu karang mengajakku bersahabat hingga cahaya pun datang, bermain ku dengan
air dan pasir yang putih dan ditemani suara music yang indah yaitu suara
gelombang ombak menerjang karang yang keras.
Memulai menghayal dan
berpikir tentang dia, dan berimajenasi “aku
tak mau kita seperti goresan yang tertulis dipasir putih pantai yang hanya
menyisahkan kenangan ketika ombak datang namun tak berjejak”
Itu sebuah pertemuan
yang tak ku harapkan dan bahkan sebuah harapan yang hilang tak berbekas,
layaknya dia yang ku jumpa tapi takbertemu jua.
Aku ingin seperti
karang walau habis dikikis air laut namun tetap kokoh berdiri dan menjadi
sebuah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar